Sebuah anekdot: FILMAKER BANYUMAS SEDANG LUCU-LUCUNYA

17 07 2007

Son Tohari
Peminat Film tahun 90an

FILMAKER Banyumas sedang lucu lucunya. Kalimat itu muncul dari seorang teman dosen ISI Yogyakarta. Rupanya dia begitu getol mengamati perkembangan film film pendek di tanah air.

Terbukti dia sempat sempatnya memforward tulisan kecil dari seorang pegiat film di Purbalingga.Menarik dan menggelitik. Karena sebelum tulisan itu dikirim dosen itu menulis dengan huruf kapital “YANG MENARIK DARI FILMAKER DI BANYUMAS JUSTRU KARENA SEDANG LUCU LUCUNYA, BUKAN KARENA KUALITAS FILMNYA”

Ah saya tidak perduli dengan teman saya tadi. Yang jelas,mengamati perkembangan film di Banyumas, khususnya Purbalingga saya acungkan jempol setinggi tingginya.

Saya justru tertarik dengan profil penyelenggara FFB. Meski tidak kenal seluruhnya, namun hampir 90 persen dari mereka memang bukan orang film dalam pengertian pegiat film. Mereka sangat dekat dengan dunia film dalam pengertian jurnalistik dan dokumenter. Kenapa FFB justru tidak mengambil kategori film dokumenter saja? Ini jadi nggak nyambung. Hihhhhhhhh……

Alih alih, hanya perkiraan saja (maaf dik Nanang kalo salah) Komunitas Jurnalis televisi Purwokerto (KJTP) sangat dipengaruih oleh ketuanya Nanang Anna Noor. Wong Ajibarang yang saya kenal dekat pada tahun 1989 ini semasa di Yogyakarta bukanlah wartawan, tetapi pemain teater dan penyair. Dia baru utak utak atik film setelah kuliah di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) .

Pengaruh Nanang terhadap KJTP inilah yang kemudian melahirkan FFB dengan katagori film cerita. Nah artinya FFB menjadi gagap karena produk film di Banyumas lebih banyak dokumenter. Dan menjadi gagu karena FFB hanya dikendalikan satu orang. Karena reporter lain hanya berbasis jurnalistik murni.Maka wajar kalau sineas Purbalingga kemudian mencoba mengkritisinya.

Yang menarik lagi, polemik itu muncul karena perbedaan visi. Barangkali saja target FFB adalah sebuah film industri.Film yang iarahkan untuk tontonan audio visual di layar gelas. Sementara komunitas Purbalingga lebih pada filmaker gerakan yang kini banyak menjadi harapan sebagai film alternatif. Kenapa FFB lebih ke arah film industri? Ini melihat dari background Nanang
yang belakangan ini lebih banyak terjun ke dunia sinetron dan nota bene film film yang hanya mengejar pasar saja.

Menjadi menarik dan sungguh menarik. Dua kubu yang berbeda arah bertarung. Itu yang mengusik saya untuk ikut urun rembug alam miliis ini.Dalam kontek ini, saya tidak ingin menyalahkan FFB wal khsus dik Nanang. Tetapi saya salut dengan pegiat film di Banyumas khususnya Purbalingga. Karena dari kalianlah sebuah film bermutu akan lahir.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.