Kolaborasi Publik dan Seniman

28 06 2007

Oleh: Bayu Kesawa Jati

Meyakini bahwa bahasa visual yang paling efektif adalah gambar, dua perupa muda M. Ayat dan Mursalim berinisiatif menghelat project mural di Purwokerto. Rencananya, mereka akan menggandeng beberapa seniman muda lainnya untuk terlibat. Project seni ini menjadi ikhwal yang menarik tatkala kita memperbincangkannya dalam satu kancah keterlibatan publik nantinya, agar ia tak jatuh dalam corat-coret murahan.
Pemilihan tembok sebagai media menjadikan mural dengan serta-merta tak bisa steril. Artinya, mural tak sekadar diperlakukan sebagai seni an sich melainkan harus berbicara realitas sosial tanpa bermaksud untuk sok kritis. Selain itu, keberadaan karya di ruang publik mengharuskan para seniman untuk benar-benar mengurangi unsur ‘self’ dalam eksekusi. Keterlibatan masyarakat yang berada di sekitar tembok menjadi prioritas yang tak bisa ditawar. Dengan kata lain, mural lantas menjelma sebagai proses sosial terjadinya interaksi nyata antara seniman dengan masyarakat.
Efek psikologis mural pada tingkah laku masyarakat di sekitarnya jelas akan muncul. Tak jauh berbeda dengan baliho dan poster komersil yang tumpang-tindih menghajar alam bawah sadar kita agar konsumtif.
Pentingnya Riset
Interaksi yang nyata terdapat dalam riset pada pra dan pasca-eksekusi karya. Seniman melakukan kerja-kerja riset pra-eksekusi dengan membuat catatan lapangan berisikan observasi dan wawancara. Penerapan dua metode ini memberikan kesempatan besar untuk terbinanya satu hubungan yang sangat personal antara seniman dengan masyarakat yang diwakili oleh satu atau beberapa komunitas di dalamnya. Namun, itu juga belum mencukupi.
Faktor mobilitas atau lalu-lalang penduduk, bangunan fisik di sekitar lokasi bahkan keadaan geografis juga membutuhkan kecermatan dari seniman. Ini membuahkan tuntutan bahwa fakta kesejarahan wilayah dan karakter kota juga tak boleh terlupa.
Ambillah contoh, di wilayah kota yang bercuaca panas macam Jakarta atau Semarang akan lebih nonjok apabila seniman menampilkan besar-besar gambar irisan buah semangka yang merah-merekah. Berbagai macam efek psikologis bisa tercipta hanya dari gambar sederhana itu, karena terdapat sugesti yang kuat dari kekontrasan yang tercipta: cuaca panas-terik dengan semangka segar.
Terkesan sederhana, memang. Namun jangan salah, gambar semangka tersebut bisa jadi merangsang pikiran publik untuk melihat realitas di sekelilingnya dan tanpa sadar merindukan hal-hal yang alami/natural. Ini jelas satu siasat bersikap dan mendorong publik untuk berpikir ulang di tengah terjangan minuman dan makanan yang serba instan.
Pada pasca-eksekusi, riset tetap berlanjut dengan fokus mengetahui respon publik sekaligus mengukur tingkat keberhasilan kolaborasi pemikiran antara seniman dan masyarakat sekitar. Seniman atau tim khusus melakukan interviu untuk mengumpulkan opini dan ekspektasi. Opini kita dudukkan sebagai respon terhadap karya mural yang telah jadi, sedangkan ekspektasi lebih pada bagaimana publik menilai kerja-kerja berkesenian yang telah dilakukan.
Biasanya, bila opini publik bagus, mereka akan berekspektasi lebih dan sangat apresiatif dengan seni mural. Jangan heran apabila nanti ada komunitas masyarakat yang berapresiasi tinggi namun di wilayahnya tidak dimural, niscaya para seniman akan diminta untuk memural tembok-tembok mereka. Yakinlah, apresiasi macam ini hanya akan tercipta apabila publik sedari awal dilibatkan.
Agaknya M. Ayat, Mursalim dan siapapun seniman yang nantinya terlibat, musti memiliki energi ekstra dan konsentrasi lebih. Seperangkat tim riset dan manajerial jelas dibutuhkan. Belum lagi soal kesulitan perijinan dan terutama sikap pemerintah kabupaten yang sudah menjadi rahasia umum di kalangan komunitas seni: tak mau peduli! *

Bayu Kesawa Jati. Kontributor Kamarbuku. Tinggal di Purwokerto.
(Tulisan ini adalah versi lengkap dari yang dimuat di Harian Suara Merdeka. Sabtu, 23 Juni 2007)
 





Ruang…ruang…ruang….!!!!

8 06 2007

 

 

      Beberapa waktu lalu muncul beberapa keluhan dari kawan-kawan kreatif atau komunitas-komunitas kreatif di Purwokerto tentang minimnya ruang berekspresi bagi mereka. Hal ini muncul tentunya bukan tanpa sebab. Bisa juga anak-anak yang mengaku kreatif itu sudah kehabisan akalnya untuk membuat ruang sendiri, atau memang malas dan manja sehingga tergantung dengan pihak luar untuk membuatkan ruang kreatif. Atau memang dalam kenyataannya kita kurang mendapat dukungan dari dalam maupun luar. Dukungan dari dalam sangat bergantung pada inisiatif dan kerja keras orang-orang
didalamnya yang tentunya harus berupa sesuatu yang konkrit dan tidak sebatas pada angan-angan. Karya yang berkualitas dan sikap tidak anti kritik hendaknya benar-benar dipahami sebagai sesuatu yang mengarah pada kemajuan. Sikap pragmatis yang cuma berorientasi pada hasil berupa profit namun mengaburkan proses bisa sedikit demi sedikit dikurangi. Hal ini bisa dilakukan jika di setiap kolektif, komunitas, tongkrongan ataupun yang membawa nama individu kreatif secara sadar, wajar dan ikhlas berkomitmen dan konsisten terhadap apa yang digelutinya untuk terus konkrit berkarya dan saling mendukung. Sebab tidak semua yang kita lakukan bisa dihargai hanya dan cuma oleh sekedar uang.

Dukungan dari luar dapat berupa penyediaan sarana ekspresi dan ruang publik yang tersedia secara cuma-cuma dan benar-benar dirasakan keberadaannya oleh
publik. Pusat kebudayaan Banyumas atau Purwokerto –mungkin lebih familiar Gedung Sutedja- yang notabene milik masyarakat luas ternyata tidak bisa diakses oleh beberapa kalangan. Program pelestarian kebudayaan lokal lebih pada bagaimana menunjukan hasil bahwa suatu kesenian lokal belum punah, bukan merumuskan bagaimana supaya kesenian tersebut tidak punah. Kalau bikin even yang ada hubungannya dengan kebudayaan luar dipersulit, katanya kita lagi gencar melestarikan budaya tradisional, tapi kalau ada proyek-proyek pelestarian budaya lokal, duitnya yang dikorup gila-gilaan ya…gimana donk?!
Seorang kawan pernah berkata, “orang yang merasa hidup adalah orang yang punya keyakinan, keyakinan terhadap apapun, sebab disana dia akan menemukan berbagai jalan menuju apa yang dia yakini itu”. Namun ingat, bukan keyakinan semu yang cuma ada di bayang-bayang kita, namun keyakinan yang mempunyai tujuan dan bisa
tercapai dengan kerja keras dan konkrit. Yap, setelah menunggu ruang yang tak kunjung terbuka, akhirnya kini kawan-kawan bisa sedikit lega mendapati orang-orang yang peduli dengan karya dan kreatifitas individu maupun komunitas lokal yang dengan baik, terbuka dan bahkan mengajak masuk secara bebas untuk mengisi ruang-ruang apresiasi dan kreatifitas yang mereka sediakan. Kafe atau coffee shop & art gallery Bintang
di jalan Adyaksa yang pada tanggal 28 April kemaren soft opening juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi kita untuk memanfaatkan ruang yang ada. Pada saat opening tersebut, Antena Parabola dan The Telephone turut mengisi dengan versi akustiknya. Lalu pemutaran film dokumenter tentang sejarah Skinhead dan juga pembacaan puisi oleh komunitas sastra Sambel Terasi. Dalam waktu dekat ini mereka akan mengadakan grand opening, dan berencana membuat pameran foto. Selain kopi, mereka pun menyediakan distro dan art gallery yang bisa diakses dengan mudah. Terdapat sebuah lay out ruang yang menampilkan barang-barang dengan nilai seni tinggi, baik yang bersifat tradisional maupun modern. Terdapat pakaian, aksesoris maupun pernak-pernik lainnya dengan kualitas yang saya pikir lebih arif ketika kita menilainya saja sendiri. Salah
satu inisiatif konkrit yang diprakarsai oleh Bintang adalah terbitnya media komunitas ini yang sangat membantu memeberikan informasi seputar aktifitas kita. Di sini sangat terbuka bagi siapapun untuk memberikan segala bentuk info seputar komunitas kreatif lokal.
Kafe Kebon Kopi & Seni, sebuah kafe atau lebih tepatnya warung kopi dengan konsep komunitas dan seni-nya coba menawarkan kepada khalayak kreatif untuk silakan dengan bebas mengisi ruang yang disediakan oleh mereka. Mereka bahkan tidak takut mengatakan bahwa ruang ini milik publik, siapapun boleh mengisi dengan bebas dalam bentuk apapun. Artinya dengan disesuaikan dengan kondisi fisik kafe tersebut. Beberapa even yang pernah dibuat antara lain Pameran foto Ecolens, Pameran foto Sinar, Pemutaran film Indie antara lain pada tanggal, 19 Februari 2007 dengan film-film : Inginku, Cinta SMS,dsb. Kemudian pada tanggal, 19 Maret 2007 dengan film-film: Fantasi Impromtu,Bullshit Politicians, Fucking a dawg, Everybody is Super, Nol, dan Laporken Kenapa. Kemudian Paa tanggal 16 April 2007, pemutaran video musik
antara lain: Kompilasi Video musik dari Ruang Rupa, Grup DJ. asal Perancis, Birdy Nam-Nam, dan Soulsaver, yang dilanjutkan dengan diskusi seputar video musik. Pada tanggal 21 Mei 2007 juga ada agenda nonton film dokumenter oleh-oleh dari Purbalingga Biosekop dengan film-film : Bioskop Kita Lagi Sedih, Mahkotaku 50:50, Lelaki Pesolek, dan Adu Jago. Juga untuk komunitas band-band indie Purwokerto dalam mini even ”Lihat Kebonku” yang dilaksanakan tanggal 24 Maret 2007, dengan band-band antara lain : Tunas Bangsa Simphony, Sheriff, ResiSangita, Innocencia, Antena Parabola, The Telephone, Stadium 12, dan Soulsaver. Memang ada syarat yang harus dipenuhi agar bisa maen di even ini, yaitu minimal harus membawakan lagu karya sendiri setidaknya satu biji. Even-even yang sudah dilakukan direncanakan akan dijalankan secara rutin tiap bulannya. Hal ini sungguh sangat membantu bagi tersedianya ruang ekspresi bagi kita.
Kabar baik bagi komunitas, karena mungkin tidak lama lagi akan ada satu ruang lagi yang tersedia secara terbuka untuk kita, yaitu Rumah Kafein yang selama ini dipertanyakan keberadaannya.
Pwtkolektif.wordpress.com, sebuah blog milik komunitas bersama, merupakan ruang bagi siapapun yang mempunyai hobi menulis atau menampilkan karyanya atau bahkan
ketika ingin menampilkan ”produknya”, bebas tinggal masukin ke email pwtkolektif@yahoo.com
Sekarang tinggal bagaimana kita secara aktif turut mendukung secara konkrit dengan apa yang kita bisa..!!!

AXb,2007





GRUNGE

2 06 2007


Sangatlah tidak mungkin jika teman-teman dari kalangan pecinta musik, terutama pecinta musik berritme cepat tidak mengenal dengan kata Grunge. Dan ketika mendengar Grunge akan terlintas bayangan tiga orang dengan pakaian sobek-sobek dan lusuh memainkan lagu Smile like teen spirits. Sudah jelas memang Nirvana, dengan karisma Kurt Cobain, dia bisa membawa musik grunge lebih dan lebih di kenal dan di dengar. Yang jadi pertayaan kenapa harus Nirvana yang terlintas dan terbayangkan ketika mendengar Kata GRUNGE?

Istilah grunge sendiri keluar sekitar tahun 80an, Jauh sebelum ada nirvana. Dipopulerkan oleh Mud Honey, ini menjadi sebutan untuk gipsy-gypsy-nya Mud Honey. Tak hanya menjadi sebuah istilah saja. Akhinya, grunge dikenal sebagai sebuah aliran musik baru pada saat itu. Pada era 80an musik rock sangat medominasi, bisa dibilang pada saat itu adalah tahun-tahun dimana Guns n Roses sendang jaya-jayanya. Tak hanya itu, dari sebuah di pinggiran benua amerika terdapat sebuah kota bernama Seattle. Dari kota ini banyak melahirkan beberapa band, yang pada saat itu mendapat banyak perahatian pecinta musik di Amerika bahkan sampai ke Eropa.Antara lain Mud Honey, Sonic Youth, Sound Garden, The Melvin, dan beberapa yang saya lupa namanya. Dan yang pasti Nirvana tidak terkecuali. Pada awalnya para pecinta musik menyebut aliran musik mereka SEATTLE SOUND. Seattle Sound memang memiliki nuansa sendiri dari segi musik, mereka memliki musik yang sederhana dan tidak terlalu menonjolkan skill. Dan terdengar campuran Rock alternative serta banyak ketukan-ketukan punk didalamnya. Mereka memilih karakter musik yang simple, dan tak jarang sangat rusak bahkan fals. Dari segi lirik pun sangat sederhana dan lugas dan menggambarkan bentuk Kekecewaan, Frustasi, Kebencian dan Rasa Bosan pada hidup. Seperti dijelaskan diatas pada akhirnya dikenalkan istilah Grunge oleh Mud Honey.

Kota Seattle merupakan kota Tambang penghasil Batu Bara, tak beda dengan kota-kota tambang lain di Amerika. Seattle menjadi kota yang sangat terlambat dalam pembangunnya dan ini sangat berpengaruh pada perkembangan musik disana. Hampir semua band-band besar Seattle memerlukan perjuangan yang besar untuk tetap eksis dan dapat didengar oleh orang banyak.

Saya rasa Grunge teridentikan dengan Nirvana karena sekitar tahun 1988, Nirvana mulai meniti karir. Sejak kemunculanya sebagai band yang berasal dari seattle Nirvana sudah menklaim diri mereka dengan membawakan lagu-lagu belariran Seattle Sound. Terlebih lagi pengalam Kurt Cobain yang pernah menjadi sound enginering Band The Malvin. Dan juga dalam beberapa wawncaran dengan beberapa media di sana dia mempertegas bahwa SonicYouth dan The Melvin adalah band yang sangat berpengaruh dalam karya-karyanya. Tetapi karena pemilihan sound dan cara bepenampilan bahkan bentuk muka Kurt Cobain sangat mirip dengan MudHoney, dia dianggap sebagai band yang beraliran Grunge dan semua itu tidak ada bantahan atau bentuk penolakan dari Kurt sendiri.

Dari waktu ke waktu, teryata grunge berkembang menjadi sebuah pandangan hidup para pecinta musik Seattle Sound. Hampir sama seperti ideology Punk, Skin head, Rastavarian dan sebagainya. Grunge memiliki sudut pandang tersendiri dalam memandang kehidupan, dan akhirya bisa menjadi sebuah gaya hidup. Sangat jelas dalam lirik-lirik mereka yang menceritakan ketidak adilan dalam hidup, rasa frustasi dan ini menjadikan bentuk kesederhanaan dalam menjalani hidup itu sendiri. Kita bisa melihat dari kesederhanaan band-band Grunge. Bagi mereka dalam mengeskpresikan perasaan cukup lewat musik, bukan dalam cara berpakaian. Banyak dari mereka yang tampil seadanya, pakaian sehari-hari mereka. Celana bolong, sepatu Kets, kemeja lusuh ataupun kaos oblong mereka tetap percaya diri dalam bermusik.

Ada sebuah cerita dari Nirvana, sekitar tahun 1991 mereka sangat ingin tampil dalam sebuah acara di MTV, ketika kesempatan itu datang mereka tampil dalam keadaan tidak mandi selama 3 hari. Tapi toh mereka bisa memberikan penampilan terbaik mereka. Lihat saja dalam video klip Mud Honey disana mereka tampil sangat sederhana. Sekarang apakah sudah benar orang Indonesia pada umumnya dan Purwokerto dalam memandang Grunge. Dan yang semakin parah, ini diperkuat oleh para pecinta musik Grunge itu sendiri, mereka terlalu mentah-mentah mengadaptasi band-band Grunge. Seperti seperti kehidupan keseharian mereka berpakaian sampai performs mereka dipanggung. Kita lihat saja dulu Kurt Cobain adalah pemabok berat, tetapi dia tinggal di bumi bagian barat dimana disana itu dingin dan alkohol berfungsi sebagai penghangat tubuh. Itu juga berpengaruh pada kebiasaanya yang jarang mandi, karena disana sangat sulit untuk berkeringat.

Parahnya ketika pecinta Grunge mengadaptasi performs Nirvana di panggung. Yaitu kebiasaanya merusak-rusak alat band. Yang perlu kita sadari siapa kita dan siapa Nirvana, Mud Honey dan sebagainya. Mereka adalah band bertaraf internasional mugkin bayaran mereka manggung beberapa kali lipat dari harga seperangkat alat band. Jadi sangat tidak pas jika teman-teman pecinta Grunge terlalu meduplikasikan Nirvana dan lainya secara mentah-mentah. Yang dibutukan sekarang adalah band-band Grunge baru yang memiliki jiwa berjuang dalam kesederhaan. Saya rasa itulah yang dibutuhkan disini. Ga’ asal ngeband, ngrusak alat pergi meninggalkan kesan buruk banget buat grunge itu sendiri. Mungkin tulisan ini sangat kurang dan terlalu cacat, tapi semoga bisa menjadi sumbu meledaknya musik-musik di Purwokerto.

 

 

==reza==








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.