Meniru Jepang? Memalukan!

6 04 2007

 uki_dan_beng__utk_pwtkolektip1.jpg

“Takeshi Maekawa saja riset Loncat Batu di Nias untuk bikin jurusnya Chinmi kok!”

PERNYATAAN kegeraman itu meluncur dari mulut Basuki Rahmat (26), komikus muda dari Purwokerto, tatkala disinggung tentang gaya visual dan tutur komik Jepang yang banyak ditiru oleh para komikus Indonesia.
Dunia perkomikan Indonesia memang sedang dirundung petaka kronis. Berjuta gugatan dilancarkan oleh para penggemar komik Indonesia yang menyimpan kegeraman serupa. Ide, alur cerita (storytelling), visual, bahkan sampai dengan imitasi komik luar negeri, terutama Jepang, dinilai merapuhkan komik sebagai media penyampai pesan-pesan sosial di tingkat lokal.
Tentu bukan tanpa alasan, Uki–begitu panggilan akrabnya—melontarkan kalimat pedas di atas. “Kita masih bisa menggali banyak hal dari lokal Indonesia. Baik itu ide cerita maupun teknis penggambaran karakter dan setting,” tuturnya beberapa waktu lalu di Kamarbuku, komunitas di mana ia turut bergabung.
“Memang benar bahwa komik Jepang atau luar juga memiliki pesan-pesan sosial dan edukasi. Namun tetap saja banyak hal yang tidak bisa ter-cover,” tambahnya sembari menjelaskan, dari sisi teknis visual, citra wajah pada komik Jepang didominasi garis-garis lurus, yang mana itu bukan karakter penggambaran wajah khas orang Indonesia.
“Itulah salah satu sebabnya posisi komik di Indonesia masih seperti anak tiri. Ketika masyarakat melihat karakter komik yang mendominasi adalah komik Jepang, maka masyarakat di sini melihat bahwa komik adalah konsumsi ala luar negeri, bukan Indonesia,” jelas Uki dengan mantap.
Bagi Uki, dunia komik bukanlah sesuatu yang baru ia kenal kemarin sore. Lelaki kurus yang baru saja merampungkan studinya di Fakultas Hukum Unsoed ini bukanlah sekadar penyuka komik. Ia rajin menggoreskan tinta, merangkai cerita bergambar yang memang menjadi bakatnya, dengan berpedoman pada kebebasan eksplorasi sang pengkarya. Uki bahkan dua kali menolak tatkala dipinang untuk bergabung dengan Grup Gramedia, karena tak mau karakter visualnya diubah.
Uki tentu saja tak sendirian. Beng Rahadian (31), komikus dari Akademi Samali Jakarta, turut merasa gerah dengan perkembangan dunia komik lokal yang sudah kelewatan dalam mengadopsi gaya luar. Beng membedakan antara komikus yang terinspirasi komik luar dengan komikus yang melakukan imitasi atau peniruan.
“Terinspirasi mungkin tak apa sebagai proses pencarian diri. Namun jangan keenakan dan kelamaan, karena kalau seperti sekarang ini, kita sebenarnya sudah dalam taraf mengimitasi produk yang sudah jelas mapan. Dan ini berbahaya,” tegas komikus berambut gondrong yang karyanya muncul setiap hari Minggu di Koran Tempo.
Beng menambahkan, “Kalau terus-menerus mengimitasi, komikus sebagai kreator sudah kehilangan proses belajarnya, yaitu tidak ada pergulatan kreatif. Padahal, dari situlah hasil karya seorang seniman atau komikus menjadi berharga. Inspirasi atau pengaruh itu harus diolah lagi sehingga membentuk karya baru.”
Parahnya lagi, ada sebagian komikus yang meniru Jepang bukan hanya pada visual komiknya, bahkan mereka mengganti nama seperti nama orang Jepang.
“Ada tuh, namanya Tatsumaki. Orang Bandung yang bikin buku How to Learn Manga. Aneh! Kenapa kita malah musti belajar yang khas Jepang sono, padahal kita masih bisa menggali banyak hal dari lokal Indonesia. How to Learn Manga buatku sangat menjijikkan. Seperti tak punya identitas saja,” ungkap Uki.
Tatsumaki yang dimaksud memang tak pernah terungkap nama sebenarnya. Mengganti nama dengan yang berbau Jepang memang erat hubungannya dengan siasat menembus pasar di Indonesia untuk memanfaatkan pola pikir masyarakat yang masih lebih mencintai produk luar, dalam hal ini Jepang.
Inspirasi visual dari komik Eropa maupun Jepang untuk membentuk karya yang baru sebenarnya malah bisa menguatkan, asal tidak mengimitasi. Uki menunjuk Sawoeng Kampret dan Panji Koming (Dwi Koendoro) terinsipirasi oleh gaya Eropa.
“Visualnya sederhana. Goresan Dwi Koendoro bergaya Eropa, tapi dia mengolahnya dengan karakter yang akrab dengan masyarakat kita,” kata Uki.
Sedangkan Beng sampai saat ini masih mengakui visual yang paling menonjol lokalitasnya adalah Petruk Tumaritis (Tatang S.). “Tak cuma dari segi visual, bahkan ide dan alur ceritanya sangat menggambarkan lokalitas. Dan ternyata komik Tatang S. sangat diterima di masyarakat,” jelas Beng.
Bagi Uki, persoalan komik diterima atau tidak oleh masyarakat memang penting. “Namun ada yang lebih penting, yakni persoalan mentalitas komikus berproses menemukan identitasnya sendiri dan bukannya meniru yang sudah mapan.”
“Mau sampai kapan kita meniru? Takeshi Maekawa saja riset Loncat Batu di Nias untuk bikin jurusnya Chinmi,” ungkap Uki dengan nada serius.*

(Dimuat di Koran Rakyat, Februari 2007)
Bayu Kesawa Jati
bayukaje@yahoo.com


Actions

Information

10 responses

26 05 2007
rika

setiap orang bebas berkarya, seberapa butakah orang indonesia dengan membanggakan dirinya sebagai bangsa indonesia? kenapa karya orang indonesia harus selalu berlabelkan indonesian style? pertanyaan yang terdalam di dalam benak saya yang pernah saya lontarkan kepada dosen saya adalah seperti apakah style komik indonesia? saya juga mencari sejarahnya dan semua yang saya lihat itu juga bukan style yang asli mencirikan muka orang indonesia.

saya akan beri contoh, musik? musik pop? musik jazz? musik rock? itu juga bukan dari indonesia dan itu juga karya, jangan di anggap ini bukan karya orang indonesia. saya mengerti kita juga butuh untuk membanggakan diri kita sebagai bangsa indonesia. tetapi kebebasan itu malah menjadi hilang dengan segala keterbatasan.

saya meneliti semua perdebatan mengenai style dan keterikatan dengan moral kita sebagai bangsa indonesia, semuanya justru hanya lebih erat dengan ego yang ingin membanggakan diri di luar negeri. ini bukan masalah gengsi, tapi masalahnya keadaan ingin menciptakan untuk dibanggakan malah menjadi batasan.

karya seni itu tidak boleh dibatasi, kalau dibatasi karya seni tidak berkembang, saya pikir justru hal ini menjadi salah satu yang menyebabkan indonesia kurang berkembang.

itulah kehebatan seni, meskipun dia tidak mengenal bangsa dan negara tapi lebih menyatukan dunia.

just my oppinion

29 05 2007
Indy K

Ok, sebelum bicara terlalu jauh tentang imitasi2 semacam ini, harus diketahui terlebih dahulu ttg syarat2 sebuah komik disebut komik.
Menurut saya, sebuah komik baru bisa didefinisikan sebuah komik hanya bila komik itu memiliki 2 faktor pendukung utama. komikus dan pembaca. Apa artinya sebuah komik dibuat bila tidak ada yg membacanya… apa artinya sebuah komik bila keberadaannya tidak diakui oleh komikusnya sendiri.
Bolehlah kita bicara buruk tentang kecenderungan akan komikus Indonesia yg doyan meniru produk luar, tapi apakah itu semua terjadi tanpa alasan,… tentu tidak kan. MEREKA MENIRUNYA KARENA MEREKA MENYUKAINYA.
Hal yg sama juga terjadi pada sdr Uki, dia menolak tawaran Gramedia karena dia tidak mau mengubah visual stylenya. Lalu, bagi orang yg doyan sama style Jepang, apakah mereka berhak untuk menghina habis2an orang seperti sdr Uki? Tentu tidak kan!! Untuk apa mereka menghinanya? Toh, dia punya pandangan sendiri ttg hal semacam ini.
Lalu kenapa Sdr Uki begitu jijik dengan orang2 yg meniru style Jepang? Kita cuma bisa mengira2, karena jawaban pastinya pasti cuma diketahui sama Sdr Uki sendiri.
Perlu diketahui oleh Sdr Uki bahwa komikus Indonesia bukan satu2nya komikus yg doyan meniru komik luar dan membuat komik baru dengan style yg sama, hal serupa sudah dilakukan oleh komikus2 asing terhadap komik2 yg tidak berasal dr negaranya sendiri. INI FAKTA DAN Sdr UKI TIDAK BOLEH MEMBANTAHNYA!!!
Sekarang setelah mengetahui hal ini sudah terjadi dimana2, menurut saya Sdr Uki dan Sdr Beng harus menarik semua perkataannya, setidaknya yg berhubungan dengan hinaannya terhadap komikus yg doyan meniru style komik asing.
Kita tidak perlu bicara terlalu jauh ttg kecenderungan imitasi semacam ini. Apalagi “impact” yg dapat dihasilkan bila proses imitasi ini berjalan terlalu lama. BERHENTILAH JADI PERAMAL, JADILAH KOMIKUS!! Karena tidak ada artinya kalau komik yg sudah capek2 dibuat itu ternyata tidak ada yg membacanya.

14 06 2007
Gibic

wedew…
meniru gapapa kok..
Jepang, tradisi komiknya emang kuat banget.. gaya yang dipakai aneh, beda sama tradisi komik barat. pergantian antar frame-nya kadang ga nyambung.. gambarin adegan-adegan yang ga satu konteks., misalnya dari gambar atap rumah, tau-tau nyambung ke gambar close up tokoh… tapi, ternyata gaya aneh itulah yang digemari di asia. baik dari si komikus maupun si pembaca komik..
mungkin yang dicaci maki disini tuh meniru yang menjiplak. misalnya karakter dengan mata besar, dan body-body ala komik jepang. nah kalo ini emang harus dicacimaki. ini bukan meniru, tapi mencontek. kurang nyeni. dan dijamin garing.
kalo mau meniru, mending meniru pergantian frame, dan pembagian kolom a la komik jepang aja. soal karakter dan tokoh, wajib bikin sendiri dong!! masa yang krusial gini masih nyontek juga??

22 06 2007
kazuma

bebas aja punya style masing2, tapi emang klo kita punya gaya sendiri, kita bisa lebih berkreasi dgn gaya yang kita miliki terutama berbicara dalam bidang komik.sebenarnya pemasaran komik diIndonesia memang lebih dominan pada kebudayaan2 jepang, dari kebanyakan penduduk, komik Jepang sangat diminati sebagai salah satu bacaan dalam waktu senggang. para komikus muda telah muncul, namun sayangnya kebanyakan sangat berpegang teguh pada japan komikaze.

22 06 2007
rynaldi

Japan memang sangat kuat dalam segala bidang, baik dalam komiknya,gaya rambut,ataupun pakaiannya, memang mereka menampilkan hal yang unik dan enak untuk ditiru. tapi itu bukan merupakan alasan untuk meninggalkan gaya kita sendiri. be your self ok!
terima kasih.’

16 07 2007
anto buluk

aloha ..

kalo karakter gambar-gambarnya “Uki”, ga mengadaptasi dari dari mana-mana yah ?
waw keyennn doung .. ;p

setubuhi

10 10 2007
kuyachan

terlepas dari meniru atau tidak, terus terang pemilihan gaya aliran atau gaya gambar adalah hak dari seniman itu sendiri, anda ga bisa donk seenaknya mengatakan “jijik” lah atau apapun, toh mereka juga tidak menghina anda karena menggunakan gaya anda sendiri. seseorang dari barat boleh saja menggunakan gaya timur, dan juga sebaliknya.. itu semua bergantung dari selera masing”…anehnya orang lebih banyak meributkan keorisinalitas soal aliran gambar yang mengarah ke gaya asing, tapi tidak pernah membicarakan gaya gambar seniman itu sendiri. yang namanya meniru itu jika gaya gambar,atau ceritanya benar-benar meniru seorang komikus, jika dia ( komikus ) punya gaya gambar dan cerita orisinilnya sendiri tapi alirannya manga, ya sah-sah aja.
terus terang saya sebagai komikus, tidak tahu! apa sih yang namanya “gaya gambar indonesia” ..KLO ANDA TAHU SILAHKAN TUNJUKAN PADA SAYA…. saya yakin gambarannya akan berbeda-beda antara setiap orang.
daripada hanya berbicara dan mencemooh karya orang silahkan anda berkarya .
saya terus terang lebih memilih gaya timur, karena kesederhaanannya, tekniknya yang tinggi, dan gaya penceritaanya yang luwes. dan bagi saya itu cukup nyaman, dibandingkan berdebat masalah “gaya gambar indonesia” yang ga bakal selesai-selesai,saya lebih suka mulai berkarya.
para komikus indonesia cuma butuh waktu untuk belajar, klo kita tilik dari sejarah, bapak manga ozamu tezuka juga awalnya meniru gaya gambar disney , tapi akhirnya beliau menciptakaan gaya gambar sendiri yang populer sekarang. komik korea (manhua) juga awalnya meniru dari manga tapi sekarang mereka sudah bisa membuat manga dengan gayanya sendiri, dan cukup sukses didunia perkomikan. bagi saya bukan mustahil bila suatu saat nanti muncul yang namanya “indonesian manga”, manga dengan bercirikan khas indonesia dan anda tidak perlu merasa jijik, dan sepertinya bakal terwujud di masadepan.
terakhir soal nama samaran jepang, suka-suka donk, bisa-bisanya anda mengomentari soal nama samaran. nama saya juga campur-campur antara sunda + chan, dan alasannya cuma “SUKA-SUKA DONK”

10 10 2007
Vandoe

Bicara komik kayanya nggak pas dan nggak klop kalo nggak melihat kembali komik anak bangsa yang sangat populer era tahun 80an lihat komik karya Tatang. S, begitu populer dengan bahasa yang sederhana dan bermuatan lokal membawa imajinasi dan visualisasi gambar yang sederhana dengan karakter khas wajah lokal sehingga mencerminkan kedekatan cerita dengan kehidupan sehari hari begitu menghibur dan ringgan untuk di cerna dengan otak kita, memang komik karya Tatang. S terlihat begitu saru dalam segi bahasa untuk sebagian pembaca terutama kalangan anak anak, tapi juga dengan tampilan visual yang dipaparkan dalam seri seri sorga dan neraka membuat pembacanya terutama anak anak secara physikologis akan terus teringat hingga dewasa dan dampaknya bisa positif bisa juga negatif, tapi menurut kajian saya untuk karya2 beliau tentang sisksa neraka begitu memberi pengaruh yang positif dalam kehidupan saya, karena sejak membaca komik tersebut saat kecil dulu pengaruh positif yang didapat adalah takutnya saya terhadap sisksa neraka sehingga mendorong kita untuk selalu instrofeksi diri terhadap segala prilaku kita didunia dan semakin menambah kedekatan kita kepada sang pencipta, Amin. terakhir untuk komik komik sekarang sepertinya tidak banyak mendidik dan membanggun jiwa, sebagian hanya menebar gambaran visual gaya hidup yang materialisme bahkan mendorong kita semakin jauh dari nilai2 agama, visualisasi yang di sajikan begitu NAIF dengan kondisi realiatas sehari hari begitu juga dalam seri seri komik jepang yang terlalu monoton. Dimana yach bisa mendapatkanlagi komik komik ringgan tapi penuh dengan makna dan jenaka seperti komik2 karya Tatang. S

31 10 2007
win or che

kayanya konyol yah….tapi kenyataannya emang orang Indonesia sukanya niru dulu, udah keenakan niru lupa sama kreasi sendiri terus mandeg. kalo kaya gitu kan parah. masalah komik indonesia banyak contoh; petruk tumaritis kan asli tuh ceritanya walaupun belum mengedukasi banget tapi dah jadi terobosan baru buat ngelawan orde baru yang ga boleh nampilin visual hantu di tv, terus ada gundala putra petir. cuma hari ini kan orang Indonesia senengnya instant aja ga perlu ada proses kreatif main ikut aja. mungkin itu kultur global yang dilkokalkan, akhirnya kita seolah-olah ga mampu bikin kreasi sendiri. ditambah juga masalah kita sendiri yang ga mao ngegali n nyari sendiri sih identitas sejarah negeri ini, gimana mao nunjukin diri. misal dalam karya visual aja jelas, siapa sih yang mau bikin komik tema tentang Indonesia dengan tokoh2 dan nama-nama Indonesia??kaya jamannya Tatang S.??
dan permasalahannya kalo cuma suka-suka, akhirnya karya kaya gitu susah dipertanggungjawabkan padahal masyarakat kan katanya sudah mulai kritis, tapi kalo senimannya bikin suka-suka dan ga ada argumen yang kuat, seniman jadi ga kritis dong sama realitas sosial masyarakat Indonesia. terus muka seniman mau ditaruh dimana??mending nonton wayang daripada baca komik yang suka niru…itu selera kan??penikmat karya (bebas)

27 11 2007
stiltzkin

memamukan?!
itu sih pandangan subjektif sdr. uki sendiri.
Dulu pun saya pernah berpandangan seperti itu,
tapi kemudian saya berpikir kembali, justru pandangan seperti itulah yg piciksekali

contohnya manga sendiri, tdk semua manga jepang bergaya mata besar n berwajah halus. lantas apa mangaka trsbt jg dicap tidak pake gaya negaranya sndiri?
komik itu universal, jadi suka2 pengarangnya pake gaya gambar seperti apa. Orang sana saja tidak mengkotak2kannya, kenapa yg disini pada ribut?
justru manga berkembang pesat karena terinspirasi dari bermacam2 gaya

jd stop menghina n merendahkan, dunia komik indonesia masih belajar merangkak, masak dimarahin terus?

semangat!!! biarkan anjing menggonggong khafilah berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.