Komikus Kita Belum Kuat

6 04 2007

Obrolan Bayu dan Beng

Para penikmat komik di Indonesia lebih menyukai komik buatan Jepang dan Eropa. Mereka menilai komik buatan Indonesia tidak memiliki kekuatan, baik secara visual artistik maupun dari segi penceritaan. Bayu Kesawa Jati (BKJ) menghimpun ketidakpuasan para pembaca komik dan melakukan interviu dengan Beng Rahadian (BR), komikus dari Akademi Samali, Jakarta.

BKJ: Para penikmat kecewa dengan komik Indonesia yang hampir seluruhnya ide cerita sangat biasa bahkan membosankan.
BR: Bener banget, kita memang punya masalah dalam tataran itu. Ide ceritanya bahkan monoton dan tak banyak berubah dari waktu ke waktu. Idenya itu-itu saja.
      
BKJ: Ini merembet ke alur cerita yang benar-benar flat (datar) dan mudah ditebak. Bahkan sama sekali tak kuat pada lead/teaser di awal-awal cerita. Setuju nggak?
BR: Setuju. Masalahnya, kawan-kawan komikus punya keinginan yang besar, bahkan terlalu besar, tapi eksekusi nihil. Mereka tidak bisa menyederhanakan cerita atau sebaliknya, mengembangkan cerita yang sederhana.
      
BKJ: Cara bercerita (storytelling) para komikus kita benar-benar kacau, layaknya mobil yang tersendat-sendat atau bahkan mobil yang terlalu cepat melaju. Ini sangat mengecewakan.
BR: Ya lagi-lagi itu harus kita akui. Pada storytelling juga punya banyak masalah. Banyak komikus tidak belajar dari komik-komik yang dibacanya, atau film yang di tontonnya. Mereka saat membuat komik ibarat memakai kacamata kuda: berhenti pada sekadar menggambar yang bagus. Tatkala ingin menggambar komik action yang “wah”, halaman demi halaman diisi dengan gambar orang berkelahi. Padahal yang namanya komik action di manapun, tidak semua halamannya gambar jagoan berkelahi.
      
BKJ: Kebanyakan komikus tidak punya karakter tokoh maupun karakter visual yang konsisten. Meskipun itu terkait dengan proses berkarya, tetapi tatkala berhadapan dengan pasar, maka ini menjadi satu hal yang sangat penting, bukan?
BR: Ya, memang kebanyakan komikus tidak memperhatikan hal penting ini. Tapi fatalnya dalam karya-karya mereka tidak didukung oleh peran-peran dari karakter lain yang seharusnya saling  mendukung. Mereka lupa untuk membuat universe (semesta) ceritanya.
      
BKJ: Sebenarnya apa kesulitan di tingkatan komikus kita, baik pada tahap pra, produksi dan pasca?
BR: Mereka belum terbiasa bekerja sama, baik itu tahap pra-produksi sampai pasca-produksi. Kelemahan pada ide, alur dan cara bercerita harusnya bisa diatasi. Misalnya, kalau si komikus nggak bisa nulis cerita ya harusnya cari orang yang punya ide dan bisa menulis cerita. Komikus kita seringkali berlaku seperti superhero yang seolah-olah bisa mengerjakan semuanya sendirian! Hahaha…
      
BKJ: Ini satu hal yang sangat penting. Adakah budaya riset sebelum komikus kita bikin karya?
BR: Nah! Itu dia! Jarang sekali! Kalaupun ada yang riset, mereka melakukannya setengah-setengah, sangat kasar dan tidak mendalam, sehingga banyak dis-orientasi setting. Pernah lho aku menemukan hal yang sangat konyol. Ada teman komikus ingin menceritakan setting Jakarta, tapi yang digambar malah setting Tokyo. Itu karena mereka tak melakukan riset. Riset itu selain untuk kepentingan cerita, juga untuk kepentingan visual-artistiknya. Iya, jarang riset, itu yang menyebabkan komik kita masih berjarak dengan pembacanya. *
      
   
BIODATA SINGKAT
Beng Rahadian
Lahir  : Cirebon, 29 Mei 1975.
Pendidikan : Lulusan ISI Jogjakarta
Status  : Menikah
Komunitas : Akademi Samali (www.akademisamali.multiply.com)
Pekerjaan : Komikus Mingguan di Koran Tempo
E-Mail  : tehjahe@yahoo.com

(Dimuat di Koran Rakyat, Februari 2007)
   





Meniru Jepang? Memalukan!

6 04 2007

 uki_dan_beng__utk_pwtkolektip1.jpg

“Takeshi Maekawa saja riset Loncat Batu di Nias untuk bikin jurusnya Chinmi kok!”

PERNYATAAN kegeraman itu meluncur dari mulut Basuki Rahmat (26), komikus muda dari Purwokerto, tatkala disinggung tentang gaya visual dan tutur komik Jepang yang banyak ditiru oleh para komikus Indonesia.
Dunia perkomikan Indonesia memang sedang dirundung petaka kronis. Berjuta gugatan dilancarkan oleh para penggemar komik Indonesia yang menyimpan kegeraman serupa. Ide, alur cerita (storytelling), visual, bahkan sampai dengan imitasi komik luar negeri, terutama Jepang, dinilai merapuhkan komik sebagai media penyampai pesan-pesan sosial di tingkat lokal.
Tentu bukan tanpa alasan, Uki–begitu panggilan akrabnya—melontarkan kalimat pedas di atas. “Kita masih bisa menggali banyak hal dari lokal Indonesia. Baik itu ide cerita maupun teknis penggambaran karakter dan setting,” tuturnya beberapa waktu lalu di Kamarbuku, komunitas di mana ia turut bergabung.
“Memang benar bahwa komik Jepang atau luar juga memiliki pesan-pesan sosial dan edukasi. Namun tetap saja banyak hal yang tidak bisa ter-cover,” tambahnya sembari menjelaskan, dari sisi teknis visual, citra wajah pada komik Jepang didominasi garis-garis lurus, yang mana itu bukan karakter penggambaran wajah khas orang Indonesia.
“Itulah salah satu sebabnya posisi komik di Indonesia masih seperti anak tiri. Ketika masyarakat melihat karakter komik yang mendominasi adalah komik Jepang, maka masyarakat di sini melihat bahwa komik adalah konsumsi ala luar negeri, bukan Indonesia,” jelas Uki dengan mantap.
Bagi Uki, dunia komik bukanlah sesuatu yang baru ia kenal kemarin sore. Lelaki kurus yang baru saja merampungkan studinya di Fakultas Hukum Unsoed ini bukanlah sekadar penyuka komik. Ia rajin menggoreskan tinta, merangkai cerita bergambar yang memang menjadi bakatnya, dengan berpedoman pada kebebasan eksplorasi sang pengkarya. Uki bahkan dua kali menolak tatkala dipinang untuk bergabung dengan Grup Gramedia, karena tak mau karakter visualnya diubah.
Uki tentu saja tak sendirian. Beng Rahadian (31), komikus dari Akademi Samali Jakarta, turut merasa gerah dengan perkembangan dunia komik lokal yang sudah kelewatan dalam mengadopsi gaya luar. Beng membedakan antara komikus yang terinspirasi komik luar dengan komikus yang melakukan imitasi atau peniruan.
“Terinspirasi mungkin tak apa sebagai proses pencarian diri. Namun jangan keenakan dan kelamaan, karena kalau seperti sekarang ini, kita sebenarnya sudah dalam taraf mengimitasi produk yang sudah jelas mapan. Dan ini berbahaya,” tegas komikus berambut gondrong yang karyanya muncul setiap hari Minggu di Koran Tempo.
Beng menambahkan, “Kalau terus-menerus mengimitasi, komikus sebagai kreator sudah kehilangan proses belajarnya, yaitu tidak ada pergulatan kreatif. Padahal, dari situlah hasil karya seorang seniman atau komikus menjadi berharga. Inspirasi atau pengaruh itu harus diolah lagi sehingga membentuk karya baru.”
Parahnya lagi, ada sebagian komikus yang meniru Jepang bukan hanya pada visual komiknya, bahkan mereka mengganti nama seperti nama orang Jepang.
“Ada tuh, namanya Tatsumaki. Orang Bandung yang bikin buku How to Learn Manga. Aneh! Kenapa kita malah musti belajar yang khas Jepang sono, padahal kita masih bisa menggali banyak hal dari lokal Indonesia. How to Learn Manga buatku sangat menjijikkan. Seperti tak punya identitas saja,” ungkap Uki.
Tatsumaki yang dimaksud memang tak pernah terungkap nama sebenarnya. Mengganti nama dengan yang berbau Jepang memang erat hubungannya dengan siasat menembus pasar di Indonesia untuk memanfaatkan pola pikir masyarakat yang masih lebih mencintai produk luar, dalam hal ini Jepang.
Inspirasi visual dari komik Eropa maupun Jepang untuk membentuk karya yang baru sebenarnya malah bisa menguatkan, asal tidak mengimitasi. Uki menunjuk Sawoeng Kampret dan Panji Koming (Dwi Koendoro) terinsipirasi oleh gaya Eropa.
“Visualnya sederhana. Goresan Dwi Koendoro bergaya Eropa, tapi dia mengolahnya dengan karakter yang akrab dengan masyarakat kita,” kata Uki.
Sedangkan Beng sampai saat ini masih mengakui visual yang paling menonjol lokalitasnya adalah Petruk Tumaritis (Tatang S.). “Tak cuma dari segi visual, bahkan ide dan alur ceritanya sangat menggambarkan lokalitas. Dan ternyata komik Tatang S. sangat diterima di masyarakat,” jelas Beng.
Bagi Uki, persoalan komik diterima atau tidak oleh masyarakat memang penting. “Namun ada yang lebih penting, yakni persoalan mentalitas komikus berproses menemukan identitasnya sendiri dan bukannya meniru yang sudah mapan.”
“Mau sampai kapan kita meniru? Takeshi Maekawa saja riset Loncat Batu di Nias untuk bikin jurusnya Chinmi,” ungkap Uki dengan nada serius.*

(Dimuat di Koran Rakyat, Februari 2007)
Bayu Kesawa Jati
bayukaje@yahoo.com





Perkenalkan, Nama Saya Patung Kinetik

6 04 2007

kinetic_sculpture___tuk_pwt_kolektif.jpg 

PULUHAN benda pipih layaknya pita beraneka warna terjuntai ke bawah dan meliuk-liuk berirama. Semakin kencang angin menyambar, semakin genit pula lengkungan spiral itu. Saking terhipnotisnya, seorang pengunjung bahkan sempat berbisik lirih, “Saya membayangkan ini kayak bokong Inul.”

Sejak Minggu (11/3), Rumah Arisan memang dipenuhi karya Mursalim (30), seorang seniman patung kinetik (kinetic sculptures) jebolan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, untuk diapresiasi oleh publik. Nama Mursalim terdengar asing, karena semenjak kepulangannya ke Purwokerto pada 2001, ia lebih banyak menggarap seni sastra dan teater. Bagi para pendengar radio pecandu acara Sama-Sama Belajar Sastra dan Puisi (Sambel Trasi) di RRI, Mursalim memang lebih dikenal dengan nama Lin Mursal.

Tatkala berbincang di rumahnya (11/3), Mursalim mengaku karyanya lebih menonjolkan pada aspek warna sebagai satu turunan dari unsur gerak yang wajib terpenuhi. Apabila dilihat dari arah samping, garis potong-semu warna antara spiral satu dengan yang lain menimbulkan fantasi tersendiri. “Geraknya ada yang ke atas dan ke bawah. Apabila ke atas, ia seolah tak berujung dan mencapai langit. Kalau ke bawah, ia seperti hendak mengebor tanah,” katanya menirukan seorang pengunjung yang dimintai penilaian akan karyanya itu.

Main-Main Sebagai Konsepsi
Patung kinetik memang tak populer di Indonesia. Padahal, jenis karya patung ini mulai berkembang di Eropa pada kisaran tahun 1920-an dengan mengedepankan aspek gerak secara nyata dari benda-benda tiga dimensi, sebagai syarat utamanya. Ditengarai, baru dikenal di Indonesia pada kisaran akhir 1970-an. Pun demikian, pengakuan atas patung kinetik sebagai salah satu bagian dari seni patung hanya berkutat pada lembaga pendidikan yang khusus mempelajari ikhwal seni.

Mursalim menyebut Marcel Duchamp sebagai salah satu peletak dasar dekonstruksi terhadap patung secara konvensional yang cenderung diam-statik dan paling banter hanya mampu menghasilkan efek gerakan yang semu. “Duchamp menyebut karyanya sebagai patung, padahal ia hanya mempertontonkan semacam roda sepeda yang berputar pada porosnya,” ungkap Mursalim sembari tertawa.

Konsepsi “main-main” seperti yang ditunjukkan Duchamps inilah yang lantas menjadi salah satu pedoman bagi para seniman untuk berkarya. Tentulah, istilah ‘main-main’ bukan sekadar iseng atau berkonotasi tak serius, melainkan lebih mengacu pada proses mencapai suatu pemaknaan dan metode berkarya yang baru. Rumus umum memang berlaku: kebaruan menjadi hal yang mutlak dipenuhi oleh seorang seniman. Sebuah karya seni hanya akan menjadi sampah tatkala terjebak pada imitasi realitas yang telah banyak dimamah oleh obrolan di warung kopi atau tempat-tempat umum lainnya.

Angin Sebagai Penggerak
Mursalim menjelaskan, segala benda tiga dimensi yang bergerak, bisa disebut sebagai patung kinetik. Berbagai macam alat penggerak pun diakui sebagai bagian yang intrinsik dari karya tersebut. “Penggerak bisa kita dapatkan dari mesin, atau bahkan yang alami seperti angin dan air,” jelas lelaki yang membutuhkan waktu 11 tahun untuk menamatkan kuliahnya ini.

Karya Mursalim kali ini mengandalkan angin sebagai penggeraknya. Tak heran, kita mungkin akan melongo dan gemas tak sabar ketika menyaksikan spiral-spiral itu hanya diam tak bergeming karena angin tak segera berhembus menerpa. Tapi jangan tanya, tatkala angin berhembus agak kencang memasuki ruang pamer, para pengunjung tiba-tiba terdiam dan benar-benar terpukau pada gerakan meliuk warna-warni yang ada di depan mata.

Asas kerja yang sederhana dengan memanfaatkan alam ternyata mampu membuahkan berbagai macam fantasi di benak para penikmat. Seperti gerakan ular yang tak patah-patah, kata seorang pengunjung. “Menakutkan! Aku seperti sedang diserang bor dari segala penjuru,” celoteh pengunjung lain yang merebahkan diri di bawah spiral-spiral bergelantungan itu.

Sang seniman sendiri sudah barang tentu membebaskan penafsiran publik pengunjung dalam menikmati karyanya. Ia memang berambisi untuk menyuguhkan efek karya seninya secara psikologis. “Ada yang bilang karya saya memberi ketenangan pikiran. Ya silakan saja,” katanya lugu.

Karya Yang Steril
Karya seni tentulah bukan barang pabrikan yang diproduksi secara massal. Meski tak bisa kita pungkiri, kecenderungan para seniman untuk membuat sesuatu yang estetis dan eksklusif ternyata harus berhadapan dengan raksasa berkekuatan modal, dan pada rongga inilah Mursalim merasa kesulitan. Sebagai seorang seniman, Mursalim menyimpan obsesi tertinggi di wilayahnya. “Pameran tunggal merupakan derajat tertinggi bagi seniman, tapi karena serba terbatas ya sebut saja ini sebagai nyaris pameran tunggal,” jelasnya sembari terkekeh.

Harapan dari sang seniman menampilkan karyanya ini tak muluk-muluk. Untuk publik Purwokerto ia jelas belum melihat potensi pengakuan. Ia hanya berharap celetukan heran dari pengunjung, “Oooh, ini patung tho!”

Sayangnya, karya Mursalim kali ini merupakan karya yang steril. Ia tak berkehendak untuk menciptakan ruang-ruang sosial untuk berbicara realitas. Padahal, patung kinetik yang mengandalkan unsur gerak, sebenarnya mampu untuk ‘nakal’ melakukan kritik sosial atau bahkan sebagai seni terapan yang sangat berguna.

Banyak perkembangan teknologi yang sebenarnya menyisakan ruang bagi kreasi-kreasi seni patung kinetik. Perpaduan teknologi dan seni ini sesungguhnya terlalu renyah untuk dilewatkan. Sebutlah misal, kincir angin/air bagi dunia pertanian, yang apabila mengacu pada asas kerjanya, jelas tergolong dalam seni patung kinetik. Dan Mursalim sebagai kreator, sampai saat ini rasanya belum menuju ke arah sana.*

(Dimuat di Koran Rakyat, Maret 2007)
Bayu Kesawa Jati
bayukaje@yahoo.com





Komik Lokal Tak Menguntungkan

6 04 2007

DATANGLAH ke beberapa pusat penyewaan komik dan tanyakan berapa jumlah komik Indonesia yang tersedia. Tapi awas, jangan berharap mendapati puluhan atau bahkan ratusan, karena kita akan kecewa.

Beberapa pengelola bahkan ogah-ogahan berkisah seputar distribusi komik lokal di persewaan mereka. Putus asa, geram bahkan sudah tak peduli, adalah sebagian besar reaksinya.

Martin (25), pengelola Comic Plus di Jalan Kampus, akhirnya buka kartu. Dari sekitar 4800 lebih jumlah komik yang ia kelola, hanya Panji Tengkorak edisi cetak ulang yang ia sodorkan. Itupun tak lebih dari 10 nomor. Lainnya? “Nggak ada,” jawabnya singkat.

Logikanya memang sudah jelas. Komik lokal tak laku di pasar. Martin berkisah, ia sebenarnya telah mengusahakan komik-komik lokal tersedia di tempatnya. “Saya dulu mencari komik lokal ke distributor besar di Bandung dan ternyata di sana nggak ada. Ketika saya tanya kenapa, mereka hanya menjawab karena nggak ada yang minat, sehingga daripada rugi di ongkos dan tenaga, ya mendingan nggak usah.”

Para pengelola persewaan komik rata-rata juga menuturkan hal yang sama. Mereka mengambil stok di distributor besar di luar kota. Biasanya distributor bisa menganalisa komik apa yang banyak diminati. “Nggak mungkin kita ambil komik yang nggak laku. Berat buat bisnis semacam ini,” kata Martin.

“Saya sempat bertemu dengan vice president Elex (Elex Media Komputindo-red), dia bilang bagaimana mungkin menyediakan komik lokal, sedangkan permintaan pasar untuk komik Jepang sangat tinggi, sekitar 89 persen dari total distribusi komik yang ada di Indonesia,” ungkap Martin beralasan.

Persoalan distribusi komik lokal sangat bergantung dari kualitas komik itu sendiri. Padahal, justru di situlah letak kelemahan yang paling besar. Penikmat komik jelas tak mau mengeluarkan kocek hanya untuk cerita komik yang lemah, dengan alur yang buruk dan cara penceritaan yang tak kuat, seperti banyak ditunjukkan oleh komik lokal dewasa ini.

“Saya suka komik Jepang karena ceritanya sangat kuat. Kita bisa tertawa, ikut bersedih, bahkan menangis saat mengikuti ceritanya. Apalagi, secara visual gambar nyaris sempurna,” kata Adi Iman (26) seorang penikmat komik. Pernyataan itu benar-benar mewakili banyak penikmat yang juga merasa lebih asyik dengan komik buatan luar, terutama Jepang.

Para komikus Indonesia tak boleh mengeluh apabila masyarakat kita sampai saat ini lebih menyukai 20th Century Boys dan sebangsanya. Mereka sebagai konsumen, berhak untuk mendapat komik yang bagus. Hukum kausalitas berlaku, komikus lokal harus mengutamakan kualitas agar publik mendapat kepuasan.

Para pengelola persewaan hanyalah pengikut dari kepuasan publik penikmat. Seperti Martin yang berjanji akan menyediakan komik-komik lokal di tempatnya. “Asalkan bagus dan banyak peminatnya,” ucapnya sembari tertawa.*

(Dimuat di Koran Rakyat, Februari 2007)
Bayu Kesawa Jati
bayukaje@yahoo.com








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.