Lomba Menulis

21 03 2007

Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJak) Mengadakan Lomba Menulis Surat Pembaca dalam rangka Hari Air Sedunia, dengan ketentuan sebagai berikut :

Tema dan persyaratan lengkap bisa dilihat di http://infojejak. blogspot. com. (Persyaratan diperlonggar : naskah yang belum dimuat di media pun dapat diikutsertakan dalam lomba).
Contoh surat pembaca dalam rangka Hari Air Sedunia bisa dilihat di http://infojejak. blogspot. com/2007/ 03/contoh- surat-pembaca- hari-air- sedunia.html.
Tata cara menulis surat pembaca dapat dilihat di http://infojejak. blogspot. com/2006/ 05/sepuluh- langkah-menulis- surat-pembaca. html
Daftar alamat redaksi media massa dapat dilihat di http://alamatmedia. blogspot. com.
Selamat berpartisipasi dalam Lomba Menulis Surat Pembaca. Terima kasih.

Informasi lebih lanjut, hubungi :
Donk Ghanie (Telp/SMS : 021-68429854) .

JARINGAN EPISTOHOLIK JAKARTA (JEJak) adalah Komunitas Penulis Surat Pembaca Media. Telp.: 021-70877788, 70881181. Fax.: 021-73881181. SMS : 0855-7777888. Email : infojejak@yahoo. com. Webblog : http://infojejak. blogspot. com





ATTITUDE

12 03 2007

Kenapa sulit sekali menuangkan apa yang ada di kepala….coba tebak apa yang ada di kepalaku…???apa yang ingin ku tuangkan…???apakah secangkir kopi panas, segelas teh hangat atau jutaan sperma yang ingin ku muncratkan, atau malah muntah…????!!!
Beberapa waktu lalu ada yang bertanya pada saya, “kenapa temen-temenmu pada pake kaos ketat, celana ketat, rambut poni menceng, style distro gitulah….???”,Sebenarnya kalian bergaya seperti itu untuk apa…???”
Jawab saya singkat, “ATTITUDE !”
“Lho apa hubungannya..???”
Begini lo mas…mbak…?!
Pernahkah kita bertanya, kenapa para buruh di Inggris pake kaos kerah, pake bretel, kepala plontos.Kenapa Punk berambut mohawk,pake baju ketat,celana ketat, pake boot,pake piercing. Kenapa anak-anak metal berambut gondrong, pake hitam-hitam, dandanan sangar. Kenapa para skateboarder lebih suka pake celana longgar, kaos longgar, pake topi, dan cenderung seperti keseharian.Kenapa para rider pake jaket kulit bertuliskan merk motor,atau logo komunitasnya,dsb…..yap banyak contoh lainnya lah…temen-temen mesti udah paham kan maksudnya…???
Attitude = sikap…..ada kalanya seseorang ingin menunjukkan siapa dirinya kepada orang lain. Berbagai cara digunakan, mulai dari cara bertata laku, pakaian, gaya bicara, gaya duduk, gaya berjalan, atau gaya-gaya lainnya…?! Namun sebelumnya saya akan melakukan sikap defense, bahwa apa yang saya tulis ya tidak dikaji secara ilmiah dan lebih banyak ngawurnya lah…?!
Masalah gaya dalam dunia indie memang banyak atribut yang mempengaruhinya, namun mari kita coba lihat dari sisi sejarah dulu…?!
Berbicara fashion tidak bisa lepas dari sejarah atau dasar empirik yang pernah terjadi. Kita tahu bagaimana Punk yang merupakan sub budaya yang lahir di Inggris pada tahun 70-an itu telah membawa pengaruh yang kuat bagi perkembangan fashion anak muda saat ini. Rambut mohawk anak punk merupakan bentuk protes mereka terhadap orang kulit putih yang terus memberangus keberadaan suku indian. Rambut warna-warni merupakan salah satu simbol perlawanan terhadap pola pikir feodal, kolot dan konservatif yang kaku. Penggunaan sepatu tinggi (boot) merupakan protes terhadap militeristik aparat yang sering kali menyalahgunakan seragamnya. Pakaian ketat dengan emblem merupakan simbol perlawanan terhadap tren kaum borjuis kapitalis yang terus mengeksploitasi dan menghisap manusia lain dan terus melakukan pemborosan dan perusakan global. Jadi di sini pada dasarnya apa yang coba disimbolkan memiliki makna perlawanan atau counter terhadap culture global yang ada. Skinhead adalah komunitas pekerja atau buruh di Inggris, yang menyukai musik Punk yang melakukan kegiatan pesta dengan membuat even musik Punk di waktu istirahat guna mempererat rasa persaudaraan mereka. Mereka mempunyai ciri-ciri kepala plontos, memakai bretel, celana jins dan sepatu boot atau Doctor Marten. Mereka berpakaian seperti itu memang pada waktu itu hampir seluruh buruh Inggris menggunakan pakaian tersebut untuk bekerja. Mereka memperjuangkan hak buruh yang terus dihisap oleh kaum borjuis kapitalis. Hal ini telah membudaya hingga saat ini, sehingga pakaian tersebut selalu dipakai para Skinhead dimanapun.
Era 40-50-an di Amerika, budaya parental yang pada waktu itu dianggap mapan yang mungkin bisa diilustrasikan sbb, “ sebuah keluarga yang harmonis dimana bapak berangkat kerja 9 to 5, senin-sabtu, ngumpul share antar anggota keluarga dengan nuansa dimana orang tua sangat dihormati secara kaku, sambil mendengar musik Picadelic yaitu musik populer yang bersih nyaris tanpa distorsi dan bernuansa dansa seperti salsa atau cha-cha yang mengeksplorasi alat musik secara lengkap dan taat koridor, macam Frank Sinatra, Everly Brothers yang bersih, rapi, eksklusif,dan nyaris tanpa letupan emosi perlawanan. Lalu ikon fashionnya mungkin bisa dilihat dengan pakaian yang rapi dengan jas,dasi dan konservatif.”, berkembang dengan pesat.  Hal ini juga tidak lepas dari pengaruh politis Amerika dimana dia sudah mulai menganggap dirinya sebagai negara super power karena kesuksesan di PD II. Sedangkan isu yang dibawa adalah kaptalisme yang jelas anti komunis karena mereka menganggap ideologi ini berbahaya, Hak Asasi Manusia, dan melakukan perlawanan terhadap negara-negara yang masih kental komunisnya macam Vietnam, Kuba, Korea, negara-negara Eropa Timur dan bahkan Indonesia. Dengan kondisi ini Amerika melakukan program wajib militer terhadap warganya untuk dipersiapkan perang. Kondisi ini malah membuat paranoid warga Amerika sendiri, bahkan rumah-rumah mereka dibangun bungker karena takut diserang, meskipun hal itu tidak pernah terjadi. Amerika yang sudah merasa besar bahkan tidak bisa menangani negara-negara kecil macam Vietnam, Kuba dan Korea itu. Hal ini telah membuat frustrasi warga Amerika sendiri dan melahirkan suatu pola budaya ketidakpercayaan terhadap orang tua, pemerintah, dan sistem di Amerika sendiri. Dominasi gereja yang berpengaruh pada pola pikir dan mental “taat dan patuh” dengan sudut pandang kacamata kuda juga sangat mempengaruhi sikap masyarakat saat itu.
Era 60-70-an, di sini mulai timbul suatu pemberontakan akibat hal di atas, trauma akibat perang, lalu penolakan wajib militer yan mengakibatkan mereka harus minggat atau bersembunyi dari pemerintah, pengekangan ekspresi wlayah berkesenian dan berbudaya membuat mereka resah dan berusaha menolak itu semua. Lalu muncul ikon-ikon pemberontak macam Jimmy Hendrik yang liar diantara dominasi kulit putih dan sistem yang kaku dengan gitarnya yang full distorsi. Led Zeppelin yang awalnya dari Inggris namun besar di Amrik, Deep Purple, mungkin generasi inilah pelopornya. Ada lagi Janis Joplin dan Jim Morrison dari The Doors. Lalu muncul aktivitas-aktivitas extreme yang juga dekat dengan musik semisal surfing atau skateboard. Dalam proses menghasilkan masterpiece atau karya yang luar biasa mereka sangat dekat dengan wacana yang biasa disebut drug, sex, dan rock’n roll. Pemahaman drug, sex and rock’n roll muncul karena sikap perlawanan mereka terhadap perang dan kondisi carut marut saat itu. Drug menjadi media untuk mendapatkan kesenangan dan ekstase dari sulitnya mendapatkan ketenangan. Sex menjadi sarana pelampiasan dari sulitnya mereka berbagi, karena sulitnya memperoleh kepercayaan. Rock’ n roll adalah alat atau senjata berupa musik yang lebih bersifat perlawanan. Rock’ n roll adalah jenis musik, dan biasanya dicirikan degan sound distorsif, dan di tahun segitu musik-musik mereka sudah cukup mencengangkan dan dianggap bikin kuping bising, namun kemudian pemahaman ini berkembang bukan hanya sekedar musik, tapi juga movement,fashion, gaya hidup,atribut,perilaku dan sikap yang seringkali kritis dan dianggap menyimpang dari apa yang umum. The Beatles dari Inggris, sekalipun dari segi musik diangap cukup pelan namun justru dia yang paling terlihat terkena atau membawa pengaruh sex, drug and rock’n roll itu. Kemudian di era ini banyak bermunculan kaum dan komunitas hippies yaitu kaum yang berusaha meninggalkan kehidupan mapan, tidak mau kerja dan mempunyai slogan “hidup itu cinta”, “make love not war”,dsb. Lambang merpati sebagai lambang perdamaian sangat populer di masa itu.
Era 70-80-an Sex Pistols bisa di bilang salah satu pelopor Punk yang cukup berpengaruh terhadap pola perlawanan terhadap mainstream saat itu. Pada perjalanannya mereka menjawab dan menjadi counter dominasi band-band pendahulunya macam The Beatles, Elvis Presley, Rolling Stones, atau lainnya yang saya sebut di atas. Mungkin rangkuman cerita lebih detail bisa didapatkan di berbagai tulisan…atau kapan2 kita ulas satu-persatu…?!
Yap lalu apa hubungannya dengan fashion?
Di masa itu tiap ikon coba memberikan bentuk pengkritisan dan perlawanan konkrit lewat berbagai cara. Mulai dari musik,lirik,tulisan hingga apa yang mereka pakai. Led Zeppelin dengan rambut gondrong sangar. Jim Morrison dengan rambut gondrong dan celana ketat, dimana masa itu lagi tren celana cutbray (red-cutbrey kali ya..hahaha…ilat Indonesia). Ramones dengan jaket dan celana kulit, rambut gondrong metal jadul berponi dengan pin menempel di jaketnya. Lalu Sex Pistol dengan rambut acak-acakan,warna-warni,kalung bandul gembok, peniti jadi tindik,dsb. Lalu Exploited dengan rambut Mohawk, full piercing dan spike seta lirik kritisnya. Dan mungkin masih banyak contoh lainnya yang tentunya berbeda bentuknya tergantung dari latar belakang masing-masing. Mereka coba mengekspresikan apa yang mereka lawan dengan fashion. Memakai kaos yang berisi tulisan propaganda anti perang, memakai celana sobek sebagai bentuk protes terhadap perusahaan celana atau sebagai lambang pembelaan terhadap kemiskinan, atau bahkan hanya untuk menunjukan bahwa, “apa masalahnya dengan pakaian sobek, toh saya tetep manusia?”, atau bahkan karena tidak ingin disebut anak manis, anak mamih, anak rumahan,dsb. Kemudian rambut gondrong awalnya adalah sebuah bentuk protes mereka terhadap wajib militer yang mengaharuskan berambut cepak, mereka ingin membuktikan bahwa rambut gondrong bukanlah penyebab seseorang menjadi tidak disiplin dan tidak bisa perang. Semua itu terjadi bukan serta-merta karena kejenuhan. Ini bukanlah pola liberalisasi atau pencarian kebebasan secara penuh seperti yang selama ini kebanyakan orang pahami. Ini adalah sikap yang berdasar pada bentuk perlawanan mereka terhadap dominasi sistem yang dianggap sudah tidak becus dan tidak mereka percaya. Memang akhirnya nilai-nilai ini bergeser karena apa ya???banyak faktor lah??!!…..yap mngkin inilah lingkaran…?! Sebagai contoh, Rolling Stones melakukan counter dominasi The Beatles, sedangkan Sex Pistols yang  berperan sebagai counter dominasi Rolling Stones. Bahkan untuk tahun 2000 ini musik-musik Picadelic malah menjadi counter terhadap dominasi pop mainstream saat ini. Tentunya dengan caranya masing-masing, sekalipun semangat yang diusung sedikit sama yaitu….perlawanan terhadap dominasi mainstream (against mainstream).
Di sini saya tidak akan men-generalisir masing-masing ikon terhadap apa yang menjadi attitude (sikap) itu sama, namun saya akan katakan bahwa apa yang coba di sikapi adalah bentuk pengkritisan dan perlawanan terhadap pola mainstream yang mendominasi culture saat itu. Dan ini sangat berbeda satu sama lain, bergantung pada cara, sudut pandang, dasar (roots) dan karakter masing-masing. Jika pada akhirnya counter culture tersebut akhirnya menjadi dominan, maka akan segera kita dapatkan counter culture baru yang akan menjadi antitesa dari culture mainstream dominan sebelumnya. Artinya segala sesuatunya bisa saja berubah baik itu caranya,bentuknya atau yang lain, namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa di sini ada sebuah semangat atau nilai untuk memberikan counter atau perlawanan terhadap apa yang dominan, dan itu bisa dilakukan jika tahu dan paham roots atau akarnya.

aXb,2007

xabex7@yahoo.com
m_abe7@yahoo.com





Starting Point!

7 03 2007

SMA 2 Purwokerto merayakan Ultahnya yang ke-57 dengan mengundang band yang sudah lumayan di Purwokerto yaitu Sad Story on Sunday dan New Counter Rasta. Namun saya hanya akan mengulas Sad Story on Sunday yang bermain pada hari Sabtu malam Minggu tanggal 24 Februari 2007. Seperti biasa band yang mengaku beraliran Emo ini membawa massa yang jumlahnya lumayan. Selain itu massa mereka terkenal dengan kebrutalannya dalam melakukan violence dance, moshing atau diving, namun tentunya tanpa kericuhan sedikitpun. SSoS membawakan kurang lebih tujuh lagu, empat lagu milik sendiri dan tiga lagu cover. Seperti biasa aksi panggung nan lumayan dahsyat cukup memicu adrenalin saya untuk bergoyang. Saya tidak akan mengulas bagaimana mereka manggung, sebab saya sudah terlalu biasa menyaksikan mereka dan jika ingin tahu bagaimana aksi mereka, nonton saja live band emo US Story of The Year, sekalipun tidak sama, tapi mereka jelas SOTY banget, setidaknya itu penilaian saya.

Wabah emo yang sedikit dibenci oleh beberapa kalangan ternyata sudah mulai masuk ke wilayah anak SMA. Emo sebagai bentuk perkembangan musik Punk dan Metal memang sempat menjadi tren, terutama di kota-kota besar. Hal inilah yang memicu para scenester oldschool menuangkan kritikan terhadap mereka. Seolah anak-anak Emo hanyalah pouseur korban tren, sedangkan pemikiran dan movement mereka nol. Sebab ada anggapan bahwa Emo berbeda dengan Punk atau Hardcore yang memiliki makna filosofis dan sejarah yang kuat. Namun saya mempunyai pendapat sendiri mengenai hal tersebut. Emo adalah salah satu bentuk dari sebuah perlawanan terhadap budaya mainstream yang dilakukan oleh mereka yang mempunyai background pemikiran yang berbeda-beda namun bersumber pada akar yang sama. Saat ini band-band emo bermunculan seperti jamur di musim penghujan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh dari negara asalnya yang notabene menjadi anutan buat kita yaitu US dan Eropa. Emo yang dianggap sebagai musik cengengnya anak-anak Punk,Hardcore atau Metal ini ternyata telah mampu menunjukkan kemampuannya menyatukan generasi yang menyukai Punk,Hardcore dan Metal sekaligus. Dewasa ini sekat antara ketiga genre besar tersebut semakin kabur. Seperti halnya Metalcore, sebuah genre fusion antara Hardcore dan Metal juga telah melakukan peran yang sama. Seringkali kita temui sebuah band dimana ternyata mereka adalah anak-anak Punk yang mempunyai visi dan gaya hidup Hardcore namun membawakan musik Metal. Namun sebelum kita menganggap mereka hanyalah sampah korban tren, hendaknya kita lebih mencermati darimana dan bagaimana mereka bisa sampai sebesar ini. Yang saya pahami terhadap Emo dan Metalcore atau sejenisnya merupakan perkembangan dari Punk,Hardcore ataupun Metal itu sendiri. Secara logis jika fase yang dilewati oleh sebuah band atau seorang anak Emo tersebut tidak mengalami lompatan, artinya dia juga memahami wacana,pemikiran dan sejarah yang berkembang, maka saya katakan dialah sesungguhnya Punk,Hardcore ataupun Metal itu sendiri. Saya menganggap minimnya pemahaman, wacana dan kesadaran dalam scene hanyalah permasalahan proses, dan hal ini tidak akan pernah tuntas, selanjutnya tinggal bagaimana kita konsisten menjalaninya. Perubahan gaya dan cara berpikir jelas dipengaruhi banyak faktor. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan perubahan bentuk tersebut, saya pikir inilah perkembangan dari sebuah counter culture.Sah-sah saja men-generalisir bahwa yang beda adalah musuh kita. Namun untuk ukuran kota sekecil Purwokerto, apakah hal tersebut cukup penting untuk kita bahas? Apalagi hal tersebut masih berasal dari akar yang sama. Yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa tetap eksis dan terus berkarya di bawah rongrongan dominasi mainstream yang semakin hari mempersempit ruang gerak kita. Yang kita butuhkan adalah sikap saling mendukung antar scene dan genre bukan saling menjatuhkan. Saya pikir kita semua sepakat, bagaimana?

abe saver





My Bloody Valentine

7 03 2007

Even yang diadakan oleh Praptu Boot Boys Purwokerto, sebuah komunitas Punks n’ Skin Purwokerto ini diadakan pada tanggal 11 Februari 2007 di gedung Sutedja Purwokerto dan menghadirkan bintang tamu dari luar kota yaitu, The Blood (Bekasi),Gamelanoink(Bekasi),Sendja Kelabu(Yogya) dan juga band lokal yaitu Full Time Skin,Stadium 12 dan Against. Even yang sempat molor satu jam ini pada awalnya berjalan lancar, namun di penghujung acara terjadi kericuhan yang menyebabkan even ini harus dihentikan. Saya hanya menonton beberapa band, antara lain The Robbin,Fall from Grace,Screaming from Something dan Kill Your Idols.

The Robbin menarik perhatian saya dengan scream vokalis ceweknya, sekalipun band baru, tapi kepercayaan dirinya sudah lumayan, dan semoga band ini terus eksis dengan formasi tersebut. Karena, terlepas dari permasalahan gender, bagi saya vokalis cewek yang mau memainkan jenis musik punk,hardcore,metal masih sangat jarang di Purwokerto dan itu sangat menarik. Setahu saya cuma tinggal Stupid Brother(Hardcore Punk) dan Landscape (Melodic) yang masih eksis dengan personil ceweknya.

Fall From Grace sebuah band Emo Metal dari Purwokerto ini tergolong band baru,namun semangat yang ditunjukan membuat saya sedikit tenang bahwa mereka akan eksis dalam waktu yang relatif lama. Band ini juga mengikuti kompilasi indie Purwokerto “ The Empty Space Journey”. Lumayan rapi, namun penguasaan sound dan aksi panggungnya masih harus lebih dikembangkan. Saya kasih applaus buat support mereka baik di atas maupun bawah panggung.

Screaming From Something, band Emo Melodic yang meski baru berumur beberapa bulan telah mampu menunjukan kesolidannya, setidaknya itu menurut saya. Tidak berlebihan jika saya katakan band ini sudah semakin baik, tinggal menambah jam terbang dan bermain sedikit lebih rapi. Eksplorasi dan referensi mereka harus ditambah agar bisa menciptakan lagu ala mereka sendiri. Mereka juga tergabung dalam kompilasi “The Empty Space Journey”, kompilasi yang di prakarsai oleh Purwokerto Heartcorner Community.

Kill Your Idols, band Semi Chaotic ala Everytime I Die atau Heavy Heavy Low Low ini bikin saya terpaku. Tapi tidak begitu kaget ketika melihat siapa-siapa personilnya. Ini sebenarnya boleh saya katakan band proyekan dari Mada(Soulsaver),Descond(Sad Story on Sunday) dan Kemal (The Telephone).Satu-satunya personil yang asli adalah Ika (Bass). Namun terlepas dari itu semua, saya berikan semua jempol yang saya punya buat mereka. Penguasaan sound,aksi panggung dan kerapihannya dalam memainkan lagu-lagu milik ETID dan HHLL yang notabene memiliki kerumitan patut diacungi jempol.Hanya saja sayang vokalisnya kurang ekspresif, jadi sedikit mengurangi aksi mereka. Namun secara umum saya puas!

Setelah itu saya di luar karena saya nglapak alias jualan, lumayan laku 2 merchandise, namun ada keironisan yang saya lihat. Saat saya sedang asyik ngobrol,tiba-tiba pintu sebelah barat jebol, anak-anak yang di luar langsung menyerbu masuk…”gratis bos” pikir mereka!!! Panitia yang terlambat mengetahui segera menutup kembali, namun lumayan lah ada sekitar 30 an anak terlanjur masuk ke dalam gedung. Ternyata kejadian ini juga terkjadi di pintu belakang sebanyak dua kali! Sungguh ironis bukan, ketika kita disuguhi sebuah even underground dengan semangat kolektifnya dimana sangat dibutuhkan support dari kita, malah kita sendiri yang memanfaatkan dan merusak acara tersebut. Kenapa semangat nonton gratis masih saja dibawa untuk even underground yang dibuat oleh kawan-kawan kita sendiri, padahal even tersebut sudah ditekan sedemikian rupa harga tiketnya, agar kita bisa menikmati semuanya, lalu mana supportnya,Bro?!

Selang beberapa waktu, jatah bintang tamu untuk beraksi pun datang. Saya persiapkan diri untuk masuk gedung, namun dalam hitungan detik suara riuh terdengar dari dalam dan segerombolan anak punk keluar sambil teriak-teriak tak jelas. Gerombolan tersebut berhenti di parkiran motor menunggu, tak lama kemudian segerombolan lainnya muncul dan langsung menghampiri. Adu mulut terjadi lumayan lama, sempat terjadi dorong-mendorong, namun masih bisa dikontrol. Setelah beberapa saat tiba-tiba sebuah gitar ukulele (kencrung) dihantamkan ke kepala seorang anak punk. Lalu kerusuhan tak bisa lagi dielakkan, botol minuman keras, helm, hingga bambu digunakan untuk senjata saling memukul. Saya sempat melihat ada yang membawa batu, namun untungnya batu tersebut dibuang. Tiga anak dibawa ke rumah sakit dan harus dirawat secara intensif, yang saya dengar satu dari kelompok Bekasi-Jakarta, satu dari Purwokerto namun satunya saya kurang tahu. Selain itu ada beberapa yang luka ringan,namun tidak jelas berapa jumlahnya. Selain itu gedung kesenian Sutedja juga turut rusak, sebuah kaca pecah terkena lemparan helm dan papan nama yang terbuat dari seng bengkok karena terpukul bambu. Kemudian sebuah sepeda motor sempat jatuh dan terinjak-injak, begitu juga sebuah sepeda kayuh yang sedang diparkir.

Akibat kejadian ini acara dihentikan oleh panitia, alhasil seluruh bintang tamu tidak jadi bermain di even tersebut. Padahal saya sudah sangat mempersiapkan diri untuk bermoshing dan pogo ria. Sekali lagi ironis, ketika kita sedang berada disebuah titik dimana kita harus saling mendukung, yang terjadi malah kerusuhan. Apalagi sering kali sikap primordial mereka dibawa jika terjadi pertentangan, Punk Purwokerto, Punk Banjar, Punk Jakarta, Punk Bekasi,dsb terus digembor-gemborkan yang kemudian masing-masing dapat menimbulkan sikap solidaritas yang tinggi. Lalu pertentangan kolektif pun tidak bisa dihindari. Sayangnya sikap tersebut muncul hanya ketika terjadi pertentangan,keributan,perkelahian,dsb, namun disaat harus memikirkan bagaimana kita bisa berkembang dan maju enggan bergerak secara kolektif. Padahal mereka masih dalam satu wilayah pemikiran dan pergerakan yang sama yaitu Punk. Sikap premanisme yang semakin merajalela di komunitas Punk hendaknya segera dihapuskan. Alkohol nan memabukkan yang semula digunakan sebagai bentuk protes akan kemapanan telah bergeser sebagai alasan untuk berbuat kekerasan. Namun dari sini saya berharap hal ini bisa dijadikan pelajaran buat kita agar dikemudian hari tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalaupun akhirnya terjadi lagi, setidaknya kita sudah belajar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dan akan lebih baik jika tanpa kekerasan.

abe saver





International Residency Program 2007 – 2008 is Open!

5 03 2007

Kelola’s International Residency program has supported over 30 Indonesian arts managers and practitioners to conduct a 2 – 4 months residency at various arts organization either in the United States or in Australia . In partnership with the Asialink Centre and the Asian Cultural Council, the 2007 – 2008 season is open for those eligible.

Application and guidelines can be downloaded at www.kelolaarts.or.id

Deadline for submitting application form: 10 February, 2007.

For more information, please contact KELOLA.

Tel. (021) 739 9311, Fax. (021) 722 1284, Email: residency@kelolaarts.or.id








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.